Kupu Keramik


Welcome bin wilujeng sumping di blog Kupu Keramik with Natas Setiabudhi
. Blog ini berisi curhat ataupun sharing teknis tentang keramik art dan craft
juga hal-hal lain berkaitan dengan keseharian penulis. Bila ada uneg2 mangga pamiarsa komentaran secara blak-blakan..any comment I will accept openly..

Best,

Natas Setiabudhi

Saturday, July 30, 2011

My first book (Belajar Sendiri Membuat Keramik)



Guys, ini buku pertama saya (Belajar Sendiri Membuat Keramik) yang diterbitkan bulan juni kemaren. Setelah sekian lama perjuangan kesanan kemari, akhirnya ada sebuah perusahaan penerbit yang mau menerbitkannya. Untuk cetakan pertama buku ini dicetak sebanyak 1000 buku. Sebenarnya saya telah menciptakan beberapa buku, hanya saja buku-buku tersebut diterbitkan dan diproduksi secara independent. Buku tersebut diproduksi dengan menggunakan mesin foto copi, kemudian covernya disablon sendiri. Jumlah buku yang diproduksi sekitar 100 unit. Saya ingat waktu itu produksi dan penjilidannya dilakukan di toko foto copy sekitar Simpang dan yang menganjurkannya adalah mang Enjum. "A, moto copy mah cobian di Simpang geura, eta mah langganana pak Ai sareung murah deui". Mang Enjum adalah supirnya pak Ahadiat (akrab disebut pak Ai), kebetulan pada saat itu saya bekerja di tempat pak Ahadiat sebagai manajer produksi keramik. Kejadian itu kalau tidak salah tahun 2000 atau 2001.  
    
Setelah buku tersebut jadi, baru kebingungan, "Rek kamanakeun buku saloba ieu?" dalam hati saya bertanya. Akhirnya saya berpikir bagaimana kalau dititipkan di toko buku Gramedia yang ada di jalan Merdeka saja, "kayanya bisa tuh" saya bicara sendiri, kos nu 'gelo' wae! Maka pergilah kesana, tanya-tanya ke pelayan tokonya. Mereka bilang saya harus ketemu dengan penanggung jawab sirkulasi buku, kalau gak salah kantornya ada di lantai 4 gedung toko buku Gramedia dan dirujuk untuk menemui ibu siapa gitu, saya lupa namanya. Singkat cerita akhirnya ketemulah dengan ibu tersebut. Saya pikir ibu-ibunya sudah tua, eh ternyata seorang ibu-ibu muda dan cantik lagee..tapi siapa tau dia masih nona..tapi egp.. yaa pas ngobrol saya rada ngadegdeg alias grogi. Tau kan saya kalau berhadapan dengan cewe suka ngadegdeg.. Kemudian saya utarakan maksud kedatangan dan ia meresponnya cukup positif. Ia bilang saya bisa menitip buku di Gramedia dengan sistim konsinyasi dengan potongan 45%. Alamak gede amirr! ya saya terima aja, yang penting buku saya ada di Gramedia. Disana buku tersebut dijual 20000an. Sekedar info aja, untuk satu buku setelah dipotong 45% jadi 11000, modal produksi sekitar 8000, sisanya 3000 (keuntungan per buku).

Untuk awal, saya menitipkan 10 buku, lumayan dalam jangka waktu 1 bulan habis. Kemudian titip lagi 10 buku, tapi berbulan-bulan masih belum habis juga, masih ada sisa 5 buku. Karena sudah terlalu lama disimpan dan tidak laku-laku, pihak Gramedia mereturnya (disimpan dalam gudang). Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil buku tersebut, daripada rusak lebih baik dijual di tempat laen. Tapi pihak sana bilang, saya harus mencari sendiri buku itu di dalam gudang. Maka diantaralah ke gudang. Pas liat ke dalam, gile bo! ternyata banyak buku-buku yang diretur yang senasib dengan saya. Buku-buku itu disusun secara bertumpuk, malah hampir menyentuh plafon gudang dan tidak ditata dengan baik pula. Ya males aja mencarinya, udah aja diridokeun we lah..

Selain di Gramedia saya juga mencari pasar laen. Saya titip juga di perpus SR, Tobucil (waktu itu masih di Dago), FX Widayanto, dan Kengsien. Di SR titip  5 buku, di Tobucil 5 buku, dan di Widayanto 10 buku. Untuk Kengsien saya jual 'dedet'. Gini ceritanya. Saya emang udah niat mau jual buku ke dia dan pengen langsung mendatanginya. Saya ke Jakarta membawa buku sebanyak 20 unit, dengan harapan semua buku diborong ludes. Berangkat dari stasiun Bandung pada hari jumat, jam 12 siang. Sesampai di stasiun Gambir, kemudian naik bis kota ke arah bunderan HI (Hotel Indonesia). Sebenarnya lupa2 ingat arah rumahnya Kengsien. Yang diingat adalah rumahnya tidak jauh dari bunderan tersebut dan dekat dengan Sarinah. Saya janji ketemuan dengan Kengsien jam 4 sore. Karena takut nyasar, saya berhenti di daerah Sarinah, padahal bisa disambung bis metro mini ke jalan Lomboknya (rumah Kengsien). Saya tidak mau ambil resiko. Dengan berjalan kaki lumayan jauh saya mencari rumahnya, akhirnya ketemulah. Kemudian saya mengebel rumahnya dan saya dipersilakan masuk. Ya..kemudian kami ngobrol2 panjang lebar, maklumlah kita sudah sangat lama baru bertemu lagi. Selain temu kangen, saya pun mengutarakan aktifitas sehari-hari di Bandung. Saya bilang, selain kerja juga aktif menulis buku tentang keramik. Tak diduga tak dinyana, dia langsung berkata, "Mana bukunya, kamu bawa gak?" sepertinya dia tahu maksud kedatangan saya. Saya bilang saya bawa 20 buku, tapi dia hanya membeli 10 buku. Tapi lumayan lah, ngurangi beban tas pas pulang ke Bandung. Waktu tidak terasa sudah hampir magrib, saya pamit untuk pulang ke Bandung. Selama perjalanan pulang saya merasa bingah alias senang, buku saya dibeli oleh my 'sensei'. Dialah salah satu yang memberi pencerahan, sehingga saya masih bertahan sampai sekarang untuk bergelut di dunia keramik..            
       
     

Curhat

Apa benar jadi keramikus itu madesu? Indikasinya adalah semakin sedikitnya mahasiswa yang berminat masuk studio seni keramik, khususnya di ITB. Sepertinya ini juga berlaku untuk perguruan tinggi yang lain (yang ada studio keramiknya). Kumaha atuh barudak...